Postingan

Menampilkan postingan dengan label Chairil Anwar

DIPONEGORO karya Chairil Anwar

Gambar
Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai. Maju. Serbu. Serang. Terjang.  Februari 1943

Biografi singkat Chairil Anwar

Gambar
  Chairil Anwar, lahir 26 Juli 1922 di Medan, meninggal 28 April 1949 di Jakarta. Berpendidikan MULO (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur “Ge- langgang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-49) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan sajaknya: Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin + Asrul Sani, 1950). Sajak-sajaknya yang lain, sajaksajak terjemahannya, serta sejumlah prosanya dihimpun H.B. Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956). Baca Juga : Aku puisi Chairil Anwar Selain menulis sajak, Chairil juga menerjemahkan. Di antara terjemahannya: Pulanglah Dia si Anak Hilang (karya Andre Gide, 1948) dan Kena Gempur (karya John Steinbeck, 1951). Sajak-sajak Chairil banyak diterjemahkan ke bahasa Inggris. Di antaranya terjemahan Burton Raffel, Selected Poems (of) Chairil Anwar (1962) dan The complete poetry and prose of Chairil Anwar (1970), Liauw Yock Fang (dengan bantuan H.B. ...

RUMAHKU : Chairil Anwar | Rumah Puisi

Gambar
Rumahku dari unggun-unggun sajak Kaca jernih dari segala nampak Kulari dari gedung lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan Kemah kudirikan ketika senjakala Dipagi terbang entah kemana Rumahku dari unggun-unggun sajak Disini aku berbini dan beranak Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu jika menagih yang satu April 1943 

DOA : Chairil Anwar | Rumah Puisi

Gambar
kepada Pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh Cahayamu panas suci tinggal kerdip lilin dikelam sunyi Tuhanku Aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara dinegeri asing November 1943

AKU : Chairil Anwar | Rumah Puisi

Gambar
Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang 'kan merayu Tidak juga kau  Tak perlu sedu sedan itu  Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang  Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerajang  Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri  Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mahu hidup seribu tahun lagi   March 1943