Saya Sedang Bertumbuh : KHOIRUL TRIAN | Rumah Puisi
SAYA SEDANG BERTUMBUH
Pada bab terkhir patah hati
Akhirnya saya benar-benar mengerti
Perihal jatuh tanpa sebab, sampai berusaha bangun tanpa semangat
Peluhnya perlahan mengering, air matanya sudah lelah mengalir sendirian
Di jumpai banyak angan-angan yang akhirnya harus direlakan satu persatu kepergiannya
Sampai benar-benar mengerti bahagia bukan hanya soal bersama
Saya ini susah payah merebut diriku yang dibawa angin
Tapi tetap saja harus mendarat pada tumpuan luka karya manusia bumi
Sehilang itu saya pernah
Kepergian dari berbagai macam cara, sudah saya lewati semuanya
Sampai kadang perihpun dirasa tawar
Semati itu saya pernah menjadi
Sekarang apa adanya saja, harapannya dikurangi
Karena sejatinya manusia tidak layak untuk dijadikan tempat menaruh harap
Kata Banda Naira, yang patah akan tumbuh, dan yang hilang akan terganti
Saya sedang menikmati fase bertumbuh dan berganti
Setelah patahnya benar-benar mematikan
Lalu hilangnya benar-benar tanpa sisa
Saya seperti gelas kosong disudut meja
Yang hanya tinggal menunggu pecahnya saja
Padahal saya ini dinanti kehadirannya
Tapi dengan lancangnya kamu pergi, dan aku jatuh berserakan
Kasih tolong pergi yang jauh
Jangan kembali, apalagi memberi sapaan selamat pagi
Aku sudah lelah perihal itu
Puluhan selamat pagi hanya akan berakhir dengan selamat tinggal
Puluhan selamat tidur, sekarang sudah berganti dengan terima kasih
Tanpa sampai jumpa kembali
Saya sedang bertumbuh
Memulihkan lagi raga-raga lemah yang pernah ditikam dengan patah hati yang terlalu hebat
Semoga lekas pulih
Saya rindu diri saya yang dulu, jauh sebelum mengenalmu
Mungkin hadirmu adalah sebuah ketidaksengajaan
Tapi lukanya tidak main-main dalamnya
Saya sedang berganti
Menjadi saya yang lebih kuat lagi untuk berdiri
Walau kenyataanya sekarang masih berjalan sambil merangkak
Semoga saja karma tidak berlaku dikamu
Saya hanya takut kamu tidak kuat menjadi saya yang dulu
Yang mungkin hadirnya tidak pernah dihargai
Yang mungkin rasaku tidak bisa kamu maknai
Itu saya dulu bukan memaksa kamu untuk membalas rasaku
Itu saya dulu hanya ingin kamu mengerti
Dan memberitahumu betapa beruntungnya kamu pernah aku perjuangkan
Tapi kamu terlambat, kamu benar-benar terlambat
Siklus kehidupan memang seperti itu kasih
Kalau kamu terlambat, maka kamu akan ditinggal
Jadikan saya untuk pelajaran kamu kedepannya yah
Kalau sudah tahu kamu dicintai dengan penuh oleh seseorang
Hargai ya, sedikit saja
Aku hanya takut kamu menjadi tidak berharga
Kalau kamu tidak menghargai orang lain
Terakhir dari saya
Jangan pernah mengetuk pintu rumah orang
Kalau kamu tidak ingin dijadikan tamu

Komentar
Posting Komentar