Lembar Pertama dari 365 Halaman : Khoirul Trian | Rumah Puisi
LEMBAR PERTAMA DARI 365 HALAMAN
Mari kita bangun lagi semuanya dari awal
ceritanya kita lanjutkan lagi
walau sebelumnya sudah kehilangan peran utamanya
setidaknya ada kisah yang harus bertemu akhir yang bahagia
baik darimu atau dariku
kita sama-sama pulih ya
belajar memaknai dari luka yang sebelumnya sulit untuk dimaafkan
dari apa-apa yang sudah runtuh
dari apa-apa yang sudah hilang
Semoga akan bertemu Jalan baiknya tahun ini
setelah sebelumnya kita kehilangan Jalan pulangnya
setiap permulaan memang tidak bisa langsung membaik
tapi bukankah kita masih bisa usahakan semuanya
Bukankah sebelumnya kita juga sudah Mahir dengan luka
lalu apalagi yang kamu takutkan
Harusnya kamu yang sudah pandai Kehilangan itu
tidak takut lagi dengan kesepian
kesepian hanya tentang diri sendiri yang belum menemukan teman cerita
dan kehilangan hanya tentang bahagia yang memang belum waktunya saja
bisa nanti, esok atau bahkan lusa
kita memang sedang disuruh untuk menerka-nerka
karena Tuhan senang menyembunyikan makna bahagia
agar kemudian kita belajar menemukan maknanya sendiri
kita memang tidak pernah peka dengan maksud Tuhan
terlebih saat sedang kecewa
rasanya Tuhan tidak pernah adil
rasanya Tuhan tidak pernah melihat kita
yang padahal sadar atau tidak Tuhan memberimu luka karena ia rindu dengan sujudmu
ia rindu kau kembali padanya dan mengelus sejadi-jadinya
mungkin tahun kemarin Banyak bercandanya
mungkin tahun kemarin terlalu banyak lupanya
sampai akhirnya Tuhan kasih kita kecewa
hanya karena meminta kita kembali padanya
tuhan baik ya
tidak memberikan apa yang kita minta sedemikian cepatnya
Tuhan membiarkan kita tertawa dengan dunia
lalu memeluk kita saat dunia mengecewakan kita
tuhan baik
kita yang jarang peka
kita selalu membiarkan diri tertampar dengan realita dulu sebelum bahagia
yang padahal sudah jelas-jelas
Tuhan bilang jangan terlalu mencintai dunia
dunia hanya tempo
hari indahnya sementara
bahagianya sementara
buktinya Tawamu saat bercanda dengan dunia sekarang selesai juga kan
Mari kita peluk Tuhan kita masing-masing
sudah lama ini kita lupa
kita masih punya dia
kita masih miliknya
baca juga : Kangen ; W.S Rendra
yang sewaktu-waktu bahagia bisa tiba
bahagia juga bisa reda
mulai hari ini kita berubah ya
dicoba pelan-pelan untuk kembali berdialog dengan Tuhan
Siapa tahu Tuhan sedang rindu dengan cerita kita

Komentar
Posting Komentar